Faktor yang melatarbelakangi ketidakberhasilan upaya perbaikan mutu adalah strategi kebijakan dan pengelolaan yang tidak efektif dan tepat guna. Pertama, strategi kebijakan yang Iebih bersifat input oriented, yakni apabila input pendidikan telah terpenuhi, seijerti penyediaan sarana dan prasarana, secara otomatis akan menghasilkan output yang bermutu. Kedua, pengelolaan pendidikan yang bersifat macro-oriented yang diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya, banyak terjadi ketidaksepadanan konsepsi dan proyeksi antara tingkat pusat (makro) dan tingkat sekolah (mikro).
Memang, untuk mendapatkan mutu yang berkualitas, penyelenggaraan pendidikan tidak hanya mengutamakan faktor penyediaan input, tetapi juga proses. Mariajemen mutu terpadu (total quality management) merupakan pendekatan baru yang berupaya memperbaiki mutu pendidikan. Jika pendekatan manajemen ini dapat diterapkan secara maksimal, tentu akan mendorong perubahan Iebih efektif bagi