ABSTRAK
Sejak tahun 1964 penjara sebagai tempat untuk menjalankan pidana sudah diganti dengan istilah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) oleh gagasan Dr. Saharjo agar tidak hanya menjadi tempat menghukum terpidana melainkan juga sebagai tempat membimbing dan mendidik terpidana menjadi anggota masyarakat yang lebih baik. Namun, saat ini seorang narapidana (residivis) yang telah menjalani masa pidana masih mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari masyarakat bahkan kesulitan mendapatkan kesempatan kerja. Hal ini terjadi karena 87% Lapas di Indonesia sudah overkapasitas sehingga program pembinaan, sarana dan prasarana yang disediakan sangat tidak optimal. Salah satunya adalah Lapas Klas IIA Kerobokan Bali dimana keamanan dan kelancaran proses pemasyarakatan masih sangat rentan karena banyaknya kasus kerusuhan yang diberitakan oleh media massa. Dengan adanya perancangan ulang ini dapat memaksimalkan fasilitas Lapas, agar setiap warga binaan pemasyarakatan (narapidana) mendapatkan pembinaan yang optimal baik secara psikologi, kesehatan, rohani dan keterampilan.
Kata kunci : lembaga pemasyarakatan, overkapasitas, keterampilan, pembinaan.