Obat merupakan salah satu poin penting dalam sistem pelayanan kesehatan khususnya di pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama yaitu Puskesmas. Ketersediaan obat merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang keberlangsungan operasional puskesmas. Persediaan obat di puskesmas dikelola oleh farmasi puskesmas. Farmasi bertugas untuk melakukan pengecekan ketersediaan obat dan melakukan pembelian obat. Pada gudang obat puskesmas terdapat beberapa jenis barang, yaitu: obat rutin, vaksin, reagensia, dan alat kesehatan habis pakai. Pengelolaan persediaan obat pada gudang obat puskesmas memiliki masalah dalam pembelian jumlah obat yang menyebabkan jumlah stok berlebih dan biaya persediaan obat yang tinggi. Permasalahan tersebut berdampak pada efisiensi pelayanan kesehatan, pemborosan anggaran dan potensi risiko tidak terpenuhinya obat bagi pasien. Kondisi tersebut mencerminkan kelemahan dalam proses logistik obat seperti perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, distribusi, dan pengendalian stok.
Pada penelitian ini akan berfokus pada jenis obat rutin dikarenakan obat rutin memiliki tingkat persediaan yang tinggi dibandingkan dengan jenis obat lainnya. Selain itu, obat rutin merupakan bagian dari persediaan yang perlu dijaga menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/Menkes.4799/2021 tentang Daftar Obat Darurat Medis. Pada keputusan tersebut terdapat daftar obat yang perlu diperhatikan mengenai ketersediaan obat di layanan kesetahan masyarakat. Pola permintaan pada obat rutin setiap bulannya memiliki sifat probabilistik dan pemesanan obat dilakukan hanya sekali dalam setiap bulannya. Pada tahun 2024 total biaya persediaan obat rutin adalah sebesar Rp. 216.299.705 lebih tinggi 20% dari anggaran yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan usulan kebijakan persediaan obat agar dapat memininalisir total biaya persediaan dan mengetahui bagaimana kebijakan untuk persediaan obat yang optimal.
Kebijakan persediaan dan biaya total persediaan optimal obat rutin akan diketahui dengan menggunakan metode klasifikasi ABC-VED dan dilakukan pendekatan menggunakan metode Probabilistic Continuous Review System (s, S) dan Periodic Review System (R, s, S). Klasifikasi ABC-VED digunakan untuk melakukan kategorisasi obat rutin berdasarkan nilai invetasi dan tingkat kekritisan obat. Obat yang sudah dikategorikan berdasarkan tingkat prioritas satu dan prioritas dua akan dilakukan perhitungan kebijakan persediaan optimalnya. Pada obat dengan prioritas satu (AV, AE, AD, BV, dan CV) akan menggunakan metode Probabilistic Continuous Review System (s, S) dikarenakan obat pada prioritas satu memiliki nilai investasi yang tinggi dan juga tingkat kekritisan yang tinggi dalam memenuhi permintaan obat, sedangkan untuk obat dengan prioritas dua (BE, BD, CE, dan CD) akan menggunakan metode Periodic Review System (R, s, S) dikarenakan obat pada prioritas dua nilai investasi dan tingkat kekritisannya tidak setinggi pada prioritas satu.
Hasil perhitungan obat prioritas satu dengan pendekatan continuous review (s, S) mampu menentukan lot pemesanan optimal (q*) obat dan maksimal persediaan (S) optimal serta safety stock obat sedangkan untuk obat prioritas dua dengan pendekatan periodic review (R, s, S) mampu menentukan waktu review interval (R), reorder point (s), dan maksimum level persediaan (S). Dari hasil perhitungan kebijakan persediaan menggunakan pendekatan continuous review (s, S) dan pendekatan periodic review (R, s, S) mampu menurunkan total biaya persediaan untuk obat rutin hingga 24% dari total biaya persediaan eksistingnya. Biaya persediaan sebelumnya Rp. 216.299.705 turun menjadi Rp. 165. 168.090. Selain itu, penentuan kebijakan persediaan obat dapat membantu farmasi puskesmas dalam menentukan maksimal persediaan obat rutin untuk meminimasi overstock dan kerusakan obat.
Kata kunci : Obat, Overstock, Persediaan, ABC-VED, Continuous Review, Periodic Review