Museum Pos Indonesia menyimpan perjalanan panjang sejarah komunikasi yang memiliki ikatan erat dengan kehidupan masyarakat. Akan tetapi cara penyajian koleksi yang masih bersifat terpisah dan informatif menyebabkan pengalaman berkunjung belum sepenuhnya menghadirkan kedekatan emosional maupun pemahaman yang utuh. Koleksi di museum pos Indonesia bersifat arsip statis, bukan sebagai rangkaian cerita yang saling terhubung di dalam ruang yang menjadi storyworld. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan bagaimana merancang alur ruang pamer berbasis narrative spatial dan storytelling agar koleksi, ruang, dan pengalaman pengunjung dapat terjalin dalam satu kesatuan narasi yang runtut dan bermakna. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif dan eksploratif melalui pengamatan langsung, wawancara semi-terstruktur, analisa studi pustaka, dokumentasi. Penelitian ini ditunjang dengan landasan teoritis terkait dengan narrative spatial, storytelling, pengalaman ruang, dan Contextual Model of Learning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan struktur naratif melalui pembagian zona, karakter, alur waktu, dan plot cerita mampu memperkuat hubungan pengunjung dengan koleksi, sehingga pengalaman berkunjung tidak hanya bersifat melihat, tetapi juga merasakan dan memahami. Pengolahan suasana ruang serta penggunaan media interaktif terbukti berperan dalam meningkatkan keterlibatan emosional dan pemaknaan terhadap sejarah pos Indonesia. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan desain pamer berbasis narasi serta menjadi rujukan praktis bagi upaya Museum Pos Indonesia yang lebih manusiawi, komunikatif, dan berorientasi pada pengalaman pengunjung.
Kata kunci: Narrative Spatial, Storytelling, Pengalaman Pengunjung, Experience Spatial Museum Pos Indonesia