Book Review - Denyut Nadi Bumi: Geologi Politik di Jawa

25 Jun 2026 mzakyrakhmat Dilihat 303 kali

Denyut Nadi Bumi: Geologi Politik di Jawa

Adam Bobbette

Subject: HISTORY OF INDONESIA 

Publisher: Marjin Kiri, 2026

Pendahuluan

Pada halaman pertama prakatanya, Adam Bobbette menuliskan sebuah pernyataan yang bersifat provokatif sekaligus programatik: *"bumi modern diciptakan di Jawa."* Pernyataan ini bahwa narasi bumi modern, termasuk teori tektonik lempeng yang menjadi fondasi geosains kontemporer, lahir dari lereng gunung berapi Jawa menjadi tesis sentral yang menopang seluruh argumen dalam *The Pulse of the Earth: Political Geology in Java* (Duke University Press, 2023), yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul *Denyut Nadi Bumi: Geologi Politik di Jawa* oleh penerbit Marjin Kiri.

Adam Bobbette adalah pengajar Geografi dan Ilmu Kebumian di University of Glasgow. Ia sebelumnya telah menerbitkan *Political Geology* (2018) bersama Amy Donovan, yang meletakkan fondasi konseptual bagi proyek intelektual yang kemudian matang dalam buku ini. Untuk menghasilkan karya ini, Bobbette menjalani penelitian lapangan yang intensif di lereng Gunung Merapi, di arsip-arsip kolonial Belanda, serta terlibat langsung dengan masyarakat Jawa, ilmuwan vulkanologi, dan tokoh-tokoh mistis lokal. Latar belakang ini menempatkannya pada persimpangan yang jarang ditempuh: antara geografi manusia, sejarah sains, kajian budaya, dan kajian pascakolonial.

Tujuan penulisan buku ini secara eksplisit adalah untuk menantang narasi sejarah geosains yang bersifat Eurosentris. Bobbette berargumen bahwa kisah-kisah modern tentang bumi bukan semata-mata produk ilmu pengetahuan Barat, melainkan lahir dari "kolaborasi yang tidak nyaman dan rumit antara para mistikus, orang-orang Kristen dan Muslim kolonial, kaum Sanskritis, etnolog, teosof, revolusioner pascakolonial, dan animis etnonasionalis". Buku ini adalah upaya untuk mengembalikan pengetahuan Jawa ke dalam sejarahnya yang sesungguhnya sebagai pengetahuan yang bukan sekadar lokal, melainkan berskala planet.

II. Ringkasan dan Analisis Isi

Bab 1: Geologi Politik sebagai Metode

Bab pembuka memaparkan kerangka konseptual "geologi politik" (*political geology*) sebagai metode analisis. Bobbette mendefinisikannya sebagai proyek yang menempatkan kembali *geos* di dalam geopolitik memahami bagaimana proses geologis yang material membentuk tatanan sosial, ekonomi, dan politik. Ia menjelaskan bahwa volkanologi kolonial di Jawa memiliki karakter yang berbeda dari geologi ekstraktif biasa:

Relasi inti dengan gunung berapi di Indonesia kolonial bukanlah bentuk ekstraksi melalui stabilisasi... melainkan tentang pengelolaan materi yang mudah berubah dan tidak dapat diprediksi dalam ruang dan waktu.

Artinya, relasi kolonial dengan gunung berapi adalah geologi koreografi, bukan geologi ekstraksi.

Bab ini juga memperkenalkan konsep *Anthropocene Jawa* tesis bahwa pertanyaan mendasar Antroposen (sejauh mana manusia terlibat dalam proses geologis) telah diajukan dan dielaborasi di Jawa lebih dari satu abad sebelum menjadi wacana utama ilmu pengetahuan Barat Volkanolog Reinout van Bemmelen, misalnya, sudah pada 1954 menyatakan bahwa *"pembangunan gunung menjadi landasan keberadaan kita di bumi"* sebuah determinisme volkanologis yang menempatkan proses vulkanik di jantung sejarah peradaban.

Tiga letusan besar menjadi latar historis babak pertama volkanologi Jawa: Krakatau (1883), Kelud (1919), dan Merapi (1930). Bobbette menunjukkan bagaimana setiap bencana mendorong pembentukan institusi ilmiah kolonial: dari pemetaan geologis pertama Verbeek hingga pembentukan *Vulkaanbewakingsdienst* (Layanan Pemantauan Gunung Api) pada 1920 yang sejak awal merupakan arsitektur pemerintahan kolonial sekaligus pusat produksi pengetahuan ilmiah.

Bab 2: Asal-Usul Jawa dalam Empat Peta

Bab kedua merupakan jantung historiografis buku ini. Bobbette memilih empat peta geologi Jawa sebagai jendela untuk membaca perubahan narasi ilmiah tentang bumi. Alasannya tegas:

"Peta-peta ini mengubah pemahaman tidak hanya tentang Jawa, tetapi tentang bumi itu sendiri; peta-peta ini membangun narasi baru tentang sejarah geologis dan bahkan sejarah sosial Jawa, dan membantu menciptakan teori tektonik lempeng."

Peta pertama, karya Rogier Verbeek dan Reinder Fennema (1896), merepresentasikan Jawa sebagai "pulau reruntuhan"—suatu lanskap katastropik di mana gunung berapi dipahami sebagai sisa-sisa pegunungan purba yang runtuh. Verbeek menulis bahwa gunung berapi *"tidak semuanya berasal dari satu ruang tunggal yang penuh lava, melainkan lebih merupakan bukaan dari tungku-tungku kecil yang terpisah-pisah". Visi katastropik ini, menariknya, paralel dengan kosmologi Jawa tentang kemunculan dan tenggelamnya daratan.

Peta kedua, oleh Felix Vening Meinesz (1931), lahir dari pengukuran gravitasi yang dilakukan dalam kapal selam sepanjang delapan tahun di Samudra Hindia. Ia menemukan palung bawah laut sepanjang lebih dari 8.000 kilometer di selatan Jawa sebuah sabuk anomali gravitasi negatif yang berkorelasi dengan deretan gunung berapi di daratan. Ini adalah langkah awal menuju pemahaman bahwa samudra dan gunung berapi terhubung secara structural cikal bakal teori tektonik lempeng.

Peta ketiga, dihasilkan oleh Reinout van Bemmelen melalui karyanya monumentalnya *The Geology of Indonesia* (pascaperang), mengembangkan "teori undasi" (undation theory)posisi teoretis yang ia pertahankan hingga wafat pada 1983 meski kurang diterima oleh komunitasnya.

Peta keempat, karya Warren Hamilton (1979), dibuat atas permintaan John Katili ilmuwan geosains Indonesia dan penasihat dekat Suharto. Peta ini mengintegrasikan teori tektonik lempeng modern ke dalam narasi geologi Jawa. Sebagaimana dicatat Bobbette, Katili kemudian mengubah narasi geologis ini menjadi semacam optimisme pembangunan Orde Baru, menempatkan kekayaan mineral samudra sebagai visi bagi negara yang baru merdeka.

Bab 3: Terinterkalasi — Geografi Spiritual dan Tektonik Lempeng

Bab ketiga adalah yang paling berani secara argumentatif. Di sini Bobbette memperkenalkan konsep *interkalasi* (*intercalation*) istilah geologi yang mengacu pada intrusi batuan dari usia berbeda yang bercampur membentuk batu baru—sebagai kerangka untuk memahami hubungan antara geografi spiritual Jawa dan teori tektonik lempeng.

Argumen intinya: ketika Warren Hamilton berargumen bahwa samudra adalah asal-usul gunung berapi, ia sesungguhnya mengulang sebuah keyakinan yang sudah berabad-abad ada di Jawa:

Ketika Hamilton berargumen bahwa samudra adalah tempat asal gunung berapi, tanpa disadarinya ia sedang membuat argumen yang sudah lama menjadi inti dari geografi spiritual Jawa.

Nyi Ratu Kidul, dewi ratu Samudra Hindia, dan Kyai Sapu Jagad, penguasa Gunung Merapi, dipahami oleh kosmologi Jawa sebagai dua entitas yang saling terhubung, saling mengirim sinyal, dan saling mempengaruhi. Labuhan ritual tahunan sultan Yogyakarta yang memberi persembahan ke laut selatan lalu mendaki ke Merapi adalah materialisasi ritual dari keyakinan bahwa samudra dan gunung berapi adalah satu sistem tektono-kosmologis.

Kisah Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi, hadir bukan sekadar sebagai anekdot dramatis tetapi sebagai studi kasus konflik epistemik. Bobbette menelusuri secara rinci bagaimana Maridjan menolak perintah evakuasi menjelang letusan 2006 dan 2010, berhadapan langsung dengan otoritas ilmuwan vulkanologi modern. Ia juga melacak bagaimana volkanolog Surono, setelah kematian Maridjan, justru mengembangkan model tektonik lempeng yang mendeskripsikan jalur magma dari Samudra Hindia ke Merapi melalui "Sesar Opak" sebuah sumbu yang identik dengan jalur ritual labuhan yang selama berabad-abad menghubungkan laut dan gunung berapi secara spiritual. Surono sendiri kemudian menyatakan: *"Pengetahuan lokal bukan sesuatu yang mistis; ia adalah tentang penghormatan terhadap alam yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari... Jika saya tidak berkomunikasi dengan gunung, bagaimana saya bisa membaca sinyalnya? Saya menghormati pengetahuan lokal di Merapi."*

Bab 4: Geodeterminisme AD 1006

Bab keempat mengeksplorasi narasi bahwa letusan besar Merapi pada tahun 1006 M menyebabkan runtuhnya kerajaan Hindu-Buddha Jawa kuno dan membuka jalan bagi Islamisasi. Bobbette menelusuri bagaimana narasi geodeterministik ini bahwa budaya adalah produk geologi—berkembang melalui kalangan ilmuwan kolonial, kaum teosofi, dan nasionalis Jawa secara bersamaan. Yang menarik adalah bahwa narasi ini tidak sekadar digunakan sebagai alat penjajah untuk menaturalisasi "kemunduran budaya Jawa"; ia juga menjadi ruang bagi gerakan spiritualisme dan kebatinan Jawa untuk berkembang, dan bahkan menjadi bagian dari pembentukan nasionalisme pra-kemerdekaan. Dengan demikian, geologi adalah sejarah; sejarah adalah geologi.


Bab 5: Geopoetika Sains Kosmik dan Estetis Johannes Umbgrove

 Bab kelima mengangkat figur Johannes Umbgrove (1899–1954), geolog Belanda yang mengembangkan konsep *geopoetika* (*geopoetics*) pendekatan geologis yang menghubungkan sains dengan estetika, dan kosmologi Hindu dengan evolusi bumi. Umbgrove merumuskan geopoetika dalam karyanya *The Pulse of the Earth* (1942) yang secara eksplisit menginspirasi judul buku Bobbette. Ia mengutip Ramayana teks sentral wayang Jawa untuk menggambarkan waktu geologis yang dalam:

"Seperti Rama menatap Samudra... batasnya menyatu dan berpadu dengan langit di cakrawala, dan saat ia merenungkan apakah mungkin membangun jalan menuju Yang Tak Terukur, demikian pula kita memandang Samudra waktu, namun di mana pun tak terlihat tanda-tanda tepi."

Umbgrove melihat bahwa batas antara *geos* dan *bios* antara batuan dan kehidupanbersifat cair dan tidak dapat ditetapkan secara kaku:

"Apakah gunung berapi tidak hidup? Bagaimana mungkin seseorang tidak mengakui keagenan yang bersemangat dari sebuah gunung yang mencair?"

Pengaruh Umbgrove kemudian sampai ke Harry Hess dari Princeton, yang dalam makalah perintisnya tentang *sea-floor spreading* (1962) secara eksplisit menyatakan bahwa ia mengikuti jejak Umbgrove:"Seperti Umbgrove, saya akan menganggap makalah ini sebagai sebuah esai dalam geopoetri.

Inilah rantai intelektual yang menghubungkan vulkanologi Jawa kolonial dengan revolusi teori tektonik lempeng dalam geosains abad ke-20.


Bab 6: Observatorium Gunung Berapi sebagai Zona Konta

Bab penutup mengeksplorasi observatorium gunung berapi sebagai arsitektur yang di dalamnya sains modern dan tradisi Kejawen (Javaisme) secara harfiah bertemu dan membentuk satu sama lain. Bobbette menunjukkan bahwa para ilmuwan sering kali menempati pos-pos pengamatan di bukit-bukit yang juga merupakan tempat keramat bagi dewa-dewa gunung berapi sehingga jalur ritual dan jalur ilmiah secara fisik adalah jalur yang sama.

Komunitas-komunitas di lereng gunung berapi tentu saja telah lama mengembangkan bentuk-bentuk lokal pemantauan gunung berapi. Makam leluhur, bukit-bukit sakral, jalur ritual, dan batu-batu keramat semuanya dikaitkan dengan pemahaman, prediksi, dan pemantauan aktivitas vulkanik

Seismograf dan galvanometer di satu sisi, serta konsep *mata batin* dalam Kejawen di sisi lain, adalah dua cara yang berbeda untuk mendengar dan menerjemahkan sinyal-sinyal gunung berapi. Bobbette menolak menempatkan keduanya sebagai rival; sebaliknya, ia menunjukkan bahwa keduanya memiliki logika mediasi yang serupa: keduanya berupaya menembus jarak antara tubuh manusia dan interior bumi.

III. Evaluasi: Argumen, Kelebihan, dan Kelemahan

Kontribusi Keilmuan

Sumbangan paling signifikan buku ini adalah pergeseran epistemologis yang ditawarkannya dalam historiografi geosains. Berbeda dari narasi konvensional yang menempatkan teori tektonik lempeng sebagai revolusi ilmiah yang murni Barat-sentris, Bobbette menunjukkan bahwa:

"Geologi modern, termasuk ilmu-ilmu ekstraktif, adalah produk kecerdasan global: perjumpaan, negosiasi, dan perantaraan yang membentuknya bukan penyebaran yang bersifat linear."

Ini merupakan tesis yang didukung oleh bukti arsip yang kuat, bukan sekadar retorika pascakolonial. Buku ini juga memberi kontribusi segar pada kajian Anthroposen dengan menunjukkan bahwa perdebatan inti tentang batas antara manusia dan proses geologis telah berlangsung di Jawa jauh sebelum dirumuskan secara formal oleh komunitas saintifik Barat

Kelebihan

Kekuatan utama buku ini adalah kedalamannya. Bobbette tidak pernah berspekulasi tanpa dasar; setiap klaimnya ditopang oleh penelitian arsip yang teliti, pengamatan etnografis, dan analisis lintas-teks. Ia memilah-milah dengan cermat seberapa jauh pengaruh Jawa terhadap geosains Eropa dapat diklaim bersifat kausal, seberapa jauh bersifat paralel, dan seberapa jauh bersifat tidak langsung.

Penggunaan *interkalasi* sebagai kerangka konseptual juga merupakan pilihan yang elegan: sebuah istilah teknis geologi yang digunakan untuk menggambarkan proses sosio-epistemik, menciptakan resonansi metaforis antara konten dan bentuk argumen.

Pendekatan naratif Bobbette pun layak diapresiasi. Kisah Mbah Maridjan, ekspedisi Vening Meinesz dengan kapal selam melalui Samudra Hindia, atau kunjungan Umbgrove ke Plateau Dieng yang dipaparkan dengan detail etnografis semuanya membuat argumen teoritis yang padat menjadi dapat diakses tanpa kehilangan ketajaman akademisnya.

Kelemahan

Beberapa catatan kritis perlu disampaikan. Pertama, meski *interkalasi* sebagai konsep sangat menarik, Bobbette kadang belum memadai dalam membedakan antara klaim yang menyatakan kosmologi Jawa *secara kausal membentuk* teori tektonik lempeng, dan klaim yang lebih moderat bahwa keduanya *merupakan respons paralel* terhadap fenomena geologis yang sama. Kejelasan epistemologis ini penting bagi pembaca dari tradisi sejarah sains yang ketat.

Kedua, meski buku ini kritis terhadap Eurosentrisme, analisis terhadap posisi elite Jawa sendiri termasuk hubungan antara kosmologi keratonsentris dengan pekerja tani dan masyarakat kelas bawah di lereng gunung berapi masih bisa diperdalam. Representasi pengetahuan Jawa dalam buku ini kadang lebih mencerminkan perspektif aristokratis-keratonis daripada pengetahuan komunal yang lebih luas.

Ketiga, bagi pembaca yang tidak memiliki latar belakang filsafat sains atau kajian pascakolonial, kepadatan konseptual bab-bab tengah (terutama Bab 4 dan 5) menuntut orientasi awal yang cukup besar.

IV. Penutup dan Rekomendasi

*Denyut Nadi Bumi* adalah karya yang berhasil melakukan sesuatu yang jarang dicapai oleh studi akademik: ia mengubah cara kita memandang objek yang tampaknya sudah mapan. Kalimat penutup prakata buku ini menjadi semacam manifesto:"Ketika kita mencoba membayangkan bagaimana hidup dalam sebuah zaman geologis baru di mana proses litik dan manusiawi tampak menyatu secara unik, kita sesungguhnya sedang mewarisi konsepsi yang jauh lebih tua tentang bumi. Sisa buku ini menunjukkan bagaimana konsepsi tersebut terbentuk dan apa yang dapat diajarkannya kepada kita tentang hidup bersama bumi."

Bagian yang paling berkesan secara analitis adalah Bab 3, di mana perbandingan antara jalur ritual *labuhan* dan jalur penelitian volkanolog colonial yang secara fisik adalah jalan yang sama di lereng Merapi bukan hanya ilustrasi yang menarik, tetapi menjadi argumen substantif tentang bagaimana sains dan mistisisme bukan dua dunia yang terpisah, melainkan dua cara yang saling membentuk dalam memahami denyut bumi.

Buku ini direkomendasikan secara kuat kepada mahasiswa pascasarjana dan peneliti di bidang sejarah dan filsafat sains, geografi manusia, kajian budaya, kajian Indonesia dan Asia Tenggara, ekologi politik, serta studi Anthroposen. Bagi para profesional di bidang vulkanologi, manajemen bencana, dan kebijakan lingkungan di Indonesia, buku ini menawarkan argumen yang matang mengapa pengetahuan lokal tidak dapat dipisahkan dari praktik sains modern—dan mengapa mengabaikannya bukan hanya keliru secara epistemis, tetapi berpotensi berbahaya secara praktis.

Buku dapat diakses melalui.Halaman ini

Peresensi : Obi Zakaria 

Aksesibilitas
Bantuan