Generasi Serba Tidak Enakan: Ketika Menyenangkan Orang Lain Menjadi Beban

18 Jun 2026 mzakyrakhmat Dilihat 285 kali

Pernahkah kamu mengiyakan ajakan teman padahal sedang kelelahan? Atau merasa bersalah ketika menolak permintaan bantuan meskipun sedang memiliki banyak pekerjaan? Jika jawabannya iya, bisa jadi Anda pernah mengalami apa yang dikenal sebagai people pleasing.

Fenomena ini semakin banyak ditemukan di kalangan anak muda. Keinginan untuk diterima, disukai, dan dianggap baik oleh lingkungan sering kali membuat seseorang mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri. Sekilas perilaku tersebut tampak positif karena menunjukkan kepedulian terhadap orang lain. Namun, di balik sikap yang terlihat ramah dan penolong, terdapat risiko kelelahan emosional yang kerap tidak disadari.

Di era digital saat ini, tekanan untuk selalu terlihat baik semakin besar. Media sosial menghadirkan ruang di mana setiap orang dapat menampilkan versi terbaik dirinya. Tidak sedikit anak muda yang merasa harus selalu hadir, membantu, dan memenuhi harapan orang lain agar tetap dianggap sebagai teman yang baik atau anggota kelompok yang menyenangkan. Akibatnya, mengatakan "tidak" menjadi sesuatu yang terasa sulit dilakukan.

Psikolog menyebut perilaku ini sebagai people pleasing, yaitu kecenderungan untuk terus berusaha menyenangkan orang lain demi memperoleh penerimaan atau menghindari penolakan. Orang yang memiliki kecenderungan ini biasanya sulit menolak permintaan, takut menimbulkan konflik, dan sering mengutamakan kepentingan orang lain dibandingkan dirinya sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk. Mulai dari selalu mengiyakan ajakan meskipun tidak ingin ikut, menerima tambahan tugas ketika jadwal sudah penuh, hingga memendam perasaan agar tidak membuat orang lain merasa tidak nyaman. Jika terjadi sesekali, hal ini mungkin tidak menjadi masalah. Namun, ketika menjadi kebiasaan, dampaknya dapat memengaruhi kesehatan mental dan kualitas hidup seseorang.

Salah satu dampak yang paling sering dirasakan adalah kelelahan emosional. Terus-menerus memenuhi ekspektasi orang lain membutuhkan energi yang tidak sedikit. Seseorang dapat merasa lelah, stres, bahkan kehilangan waktu untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menimbulkan kecemasan dan menurunkan kesejahteraan psikologis.

Tidak hanya itu, people pleasing juga dapat memengaruhi rasa percaya diri. Ketika kebahagiaan terlalu bergantung pada penilaian orang lain, seseorang akan sulit merasa puas terhadap dirinya sendiri. Penghargaan diri seolah bergantung pada seberapa banyak orang menyukai atau menerima dirinya. Ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, muncul rasa kecewa, sedih, bahkan menyalahkan diri sendiri.

Padahal, membantu orang lain dan menjaga hubungan sosial merupakan hal yang baik. Namun, kepedulian terhadap sesama perlu diimbangi dengan kemampuan menjaga diri sendiri. Menolak permintaan yang dirasa memberatkan bukanlah tindakan egois, melainkan bentuk penghargaan terhadap waktu, energi, dan kesehatan mental yang dimiliki.

Karena itu, penting bagi anak muda untuk mulai mengenali batas kemampuan diri. Belajar mengatakan "tidak" secara sopan, menyampaikan pendapat dengan jujur, dan memahami kebutuhan pribadi merupakan langkah penting untuk membangun hubungan sosial yang sehat. Pertemanan yang baik tidak seharusnya menuntut seseorang untuk terus mengorbankan dirinya demi menyenangkan orang lain.

Pada akhirnya, menjadi pribadi yang baik bukan berarti harus selalu mengiyakan semua hal. Justru dengan memahami batas diri dan menghargai kebutuhan pribadi, seseorang dapat membangun hubungan yang lebih sehat, tulus, dan seimbang. Sebab, menghargai diri sendiri sama pentingnya dengan menghargai orang lain.

 

Referensi

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pentingnya menjaga kesehatan mental di era digital.

PenulisAnnisa Khalifah Dwi | Editor: Irma Sari | Gambar: Canva

 

 

Aksesibilitas
Bantuan