Kita hidup di era ketika setiap pencapaian kecil dengan cepat diabadikan, diunggah, lalu diberi label self reward. Membeli kopi mahal disebut self reward, menyelesaikan satu tugas kerja dianggap self reward, bahkan olahraga 10 menit pun sering berakhir dengan selfie reward.
Namun, mari jujur pada diri sendiri: apakah itu benar-benar bentuk penghargaan terhadap diri, atau hanya kesenangan sesaat yang dibungkus seolah-olah sebagai apresiasi diri? Tren self reward kerap menjadi bentuk modern dari performative self-appreciation—bukan semata menghargai diri sendiri, melainkan terkadang juga menjadi cara untuk membangun personal branding di hadapan orang lain.
Senang sesaat VS Reward sebenarnya
Contoh sederhadan dari self reward dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika kamu mengambil foto lalu mengunggah pada sosial media dan pada saat ada notifikasi like atau komentar timbulah rasa kebahagiaan kecil. Tapi coba perhatikan berapa lama perasaan senang itu bertahan? Bahkan terkadang perasaan senang itu bisa langsung hilang begitu kamu menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar peduli dengan selfie-mu selain dirimu sendiri? atau ada rasa sedikit bersalah karena tahu bahwa kamu sebenarnya sedang mencari vallidasi yang tidak perlu. Reward sebenarnya adalah perasaan hangat, nyaman dan benar-benar senang ketika kamu menyelesaikan sesuatu yang benar-benar berat. Kamu bisa merasakannnya saat tidur, bahkan dengan jangka panjang masi bisa merasakan kesenangan tersebut.
Mengapa kita terjebak dalam ruang yang salah?
kita suka menyebut senang sesaat sebagai reward karena suatu alasan utama, karena kita tidak nyaman dengan rasa bosan dan rasa tidak mengerti. Media sosial mengajarkan bahwa kebahagiaan harus dipamerkan dan setiap momen kecil layak dirayakan. Self Reward adalah jalan yang sempurna,ia memberi kita alasan untuk berhenti sejenak dan berkata pada dunia. Lebih berbahaya lagi kebiasaan ini merusak sistem motivasi otak, setiap kali kita memberi self reward instan untuk hal kecil dan otak belajar bahwa usaha besar tidak perlu untuk bahagia. Akibatnya, saat benar-benar harus berjuang, kita kehilangan daya tahan. Kita mudah menyerah, menjadi pribadi yang rapuh, dan setiap kali lelah kita lari pada hiburan instan lalu menyebutnya self-care.
Lalu kapan self reward nya?
Reward sebenarnya bukanlah selfie atau captiom, ia hadir saat kamu berhasil melewati masa sulit tanpa menyerah saat kamu tetap berusaha meski tidak ada yang melihat kamu menyelesaikan sesuatu. Maka izinkan dirimu jujur, senang sesaat itu baik dan manusiawi tapi jangan samakan dengan penghargaan atas perjuangan mu. Karena dengan membedakan keduannya,kamu memberi dirmu hadiah yang lebih berharga sehingga benar-benar menghargai dirimu saat kamu pantas mendapatkannya.
Kesimpulan
Trend self reward bukanlah bentuk penghargaan diri sejati,melainkan "performative self-appreciation" yang sering kali merupakan kedok untuk membangun personal branding. Kesenangan yang dihasilkan dari ritual ini bersifat instan dan rapuh bergantung pada "like" dan komentar, serta cepat memudar ketika validasi eksternal tidak kunjung datang. Fenomena ini tidak hanya dangkal, tetapi juga merusak sistem motivasi otak. Dengan membiasakan diri memberikan hadiah instan untuk hal-hal kecil, kita secara tidak sadar mengikis daya tahan dan kemampuan untuk berjuang menghadapi tantangan yang sesungguhnya.
Reward sebenarnya adalah perasaan hangat, nyaman, dan bangga yang hadir setelah melewati masa sulit, reward seharunya menjadi sebuah kepuasan internal yang bertahan lama, bahkan tanpa perlu disaksikan siapa pun. Oleh karena itu, penting untuk membedakan antara senang sesaat dan menghargai perjuangan. Kejujuran pada diri sendiri untuk tidak menyamakan keduanya adalah hadiah yang jauh lebih berharga.
referensi
Duhigg, C. (2012). The power of habit: Why we do what we do in life and business. Random House.
Kishimi, I., & Koga, F. (2019). Berani tidak disukai: Fenomenologi kebahagiaan (P. M. Laksono, Penerj.). Gramedia Pustaka Utama. (Karya asli diterbitkan tahun 2013)
Agustin, D. (2017, February 1). Kesenangan Sesaat Buat Capai Tujuan Keuangan Semakin Sulit. Republika Online.
Penulis: Nurlaily Putri Fadillah | Editor: Irma Sari | Gambar: Canva
