Pernahkah kamu merasa sulit untuk menolak ajakan teman, tambahan tugas dari dosen, atau permintaan organisasi meskipun jadwalmu sudah padat? Hal itu bisa terjadi karena kamu terjebak dalam fenomena overcommitment, yang rupanya sangat umum terjadi di kalangan mahasiswa. Banyak dari kita yang merasa ingin terlibat dalam segala hal karena takut mengecewakan orang lain, takut dianggap tidak peduli, atau bahkan takut kehilangan suatu kesempatan.
Perlu kamu sadari bahwa selalu mengiyakan permintaan orang lain memiliki dampak yang signifikan. Kelelahan mental bisa jadi teman setia karena kamu merasa tidak pernah cukup meski sudah berusaha maksimal. Munculnya rasa cemas setiap kali ingin menolak, disertai dengan ketakutan akan dibenci atau ditinggalkan. Akibatnya, produktivitas dalam hidupmu terganggu karena energi yang terbagi ke terlalu banyak hal, dan yang paling menyedihkan, kamu kehilangan waktu untuk diri sendiri. Kamu menjadi selfless dalam arti yang tidak sehat: melupakan bahwa dirimu pun butuh perhatian.
Ada pula yang ingin mencoba berkata “tidak” tapi selalu mundur karena ragu, yang bisa datang dari mana saja. Mulai dari ekspektasi lingkungan, tekanan dari teman sebaya, hingga persepsi yang keliru bahwa menolak sama dengan egois. (Greg McKeown, 2014) dalam Essentialism mengatakan “A polite, firm 'no' is a way of protecting our energy and our long-term focus.” Mengatakan “tidak” pada sesuatu yang tidak penting sama dengan kamu berkata “iya” pada prioritasmu sendiri. (William Ury, 2007) dalam The Power of a Positive No juga menegaskan “A positive no is not just a refusal; it is a declaration of what you stand for.” Jadi, tunggu apalagi? Ini dia…
Five Ways to Say No Gracefully and Effectively
1. I would Love to, but Not Right Now
Gunakan penundaan yang sopan. Contoh: “Aku tertarik banget, tapi minggu ini aku sudah punya beberapa agenda. Mungkin minggu depan?” Ini membuatmu memiliki ruang tanpa langsung menutup pintu di depan lawan bicaramu.
2. Offer an Alternative
Jika kamu tidak bisa memenuhi permintaan yang sebenarnya ingin kamu lakukan maka tawarkan solusi lain. Misalnya “Aku tidak bisa ikut rapat besok, tapi aku bisa bantu mengumpulkan data untuk presentasi kita.” Hal ini membuka jalan baru untukmu agar bisa membantu tanpa membebani jadwalmu yang sudah padat.
3. Use a Polite and Direct Short Answer
Terkadang, “Maaf, aku tidak bisa kali ini” sudah cukup. Tidak perlu menjelaskan alasan terlalu detail. Semakin mereka tahu semakin besar pula peluang mereka untuk mencari celah dan membujukmu.
4. Anchor Your No to Your Values
Katakan bahwa penolakanmu bukan karena tidak mau membantu, melainkan karena komitmen pada prioritas yang sudah kamu tetapkan. Contoh: “Saat ini aku fokus menyelesaikan skripsi, jadi aku belum bisa mengambil tanggung jawab tambahan.”
5. Practice with Low-Stakes-Situations
Mulailah berlatih dari hal kecil. Tolak tawaran minuman saat kamu tidak mau, atau tolak ajakan nonton film saat kamu butuh istirahat. Latihan kecil ini akan membangun keberanian untuk menolak hal yang lebih besar.
Setiap kali kamu mengatakan “tidak” pada hal yang kurang penting atau hal yang tidak kamu inginkan, sebenarnya kamu sedang mengatakan “iya” pada hal yang lebih berarti. Kamu mengatakan iya pada waktu istirahat, iya pada prioritas, iya pada impianmu, dan yang terpenting, iya pada dirimu sendiri. Pada akhirnya, kita hidup bukan untuk memenuhi ekspektasi semua orang, melainkan untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Seperti yang diingatkan James Clear dalam Atomic Habits, perubahan kecil yang konsisten, termasuk kebiasaan berkata “tidak” pada hal yang esensial, akan membuka potensi besar dalam jangka panjang. Jadi beranilah berkata “tidak” hari ini. Karena dengan begitu, kamu sedang membangun hidup yang benar-benar kamu inginkan.
Daftar Referensi:
Ury, William. (2007). The Power of a Positive No: How to Say No and Still Get to Yes. New York: Bantam Books.
McKeown, Greg. (2014). Essentialism: The Disciplined Pursuit of Less. New York: Crown Business.
Clear, James. (2019). Atomic Habits: Perubahan Kecil yang Memberikan Hasil Luar Biasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Penulis: Cut Syifa Khalda Nabila | Editor: Irma Sari | Gambar: Canva

