Fomo di Kalangan Mahasiswa: Takut Ketinggalan atau Cuma Ikut-ikutan?

28 April 2026 Oleh mzakyrakhmat Dilihat 173 kali

 

 

Gambar: Canva

Dalam kehidupan perkuliahan, mahasiswa sering dihadapkan pada berbagai tuntutan, baik dari lingkungan akademik maupun sosial. Saat melihat teman-teman yang aktif berorganisasi, mengikuti magang, memenangkan kompetisi atau punya banyak pencapaian, sering muncul perasaan tertinggal. Perasaan ini dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa khawatir ketika merasa tertinggal dalam pengalaman, kesempatan atau pencapaian yang dianggap penting oleh orang lain.

Di era digital, FOMO semakin mudah muncul karena mahasiswa setiap hari terpapar unggahan media sosial yang menampilkan sisi terbaik kehidupan orang lain. Tanpa disadari, hal ini membuat seseorang merasa harus selalu produktif, aktif, dan berhasil dalam waktu bersamaan. Padahal, setiap orang memiliki kondisi, kapasitas, dan perjalanan hidup yang berbeda.

FOMO bisa mendorong mahasiswa mengikuti banyak aktivitas tanpa mempetimbangkan kemampuan diri. Akibatnya, mereka rentan mengalami kelelahan, kehilangan fokus akademik, kesulitan membagi waktu, bahkan mengalami tekanan mental. Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain juga dapat menurunkan rasa percaya diri dan memicu overthinking.

Yang perlu dipahami, apa yang terlihat di media sosial belum tentu mencerminkan kenyataan sepenuhnya. Di balik pencapaian yang dipublikasikan, sering kali ada proses panjang, kegagalan, tekanan, dan perjuangan yang tidak terlihat. Karena itu, menjadikan media sosial sebagai standar hidup dapat menimbulkan ekspektasi yang tidak realistis..

Jika tidak dikelola dengan baik, FOMO dapat berdampak pada kesehatan mental, seperti meningkatnya stres, kecemasan, sulit merasa puas, hingga kelelahan emosional. Dalam jangka panjang, kondisi ini juga bisa menurunkan kualitas belajar dan produktivitas mahasiswa.

Beberapa hal yang bisa dilakukan, antara lain:

1. Menyadari bahwa setiap orang memilki proses dan waktunya masing-masing

2. Fokus pada tujuan pribadi, bukan pencapaian orang lain

3. Mengurangi penggunaan media sosial secara berlebihan

4. Menentukan prioritas kegiatan yang sesuai kebutuhan dan kemampuan

5. Memilih aktivitas yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan diri

6. Memberi waktu istirahat agar tetap seimbang

7. Mensyukuri progres kecil yang sudah dicapai

FOMO adalah hal yang cukup umum dialami mahasiswa. Namun, jika disikapi dengan baik, perasaan tersebut bisa menjadi pengingat untuk lebih mengenal diri sendiri, menyusun prioritas, dan berkembang sesuai jalan masing-masing. Karena pada akhirnya, sukses bukan soal siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang konsisten bertumbuh sesuai kapasitasnya.

 

Referensi:

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pentingnya menjaga kesehatan mental di era digital.

World Health Organization. (2022). Mental health and well-being.

American Psychological Association. (2021). Social media and fear of missing out (FOMO).

 

Penulis: Annisa Khalifah Dwi | Editor: Irma Sari