The Art of Negotiating with Rejection

02 March 2026 Oleh mzakyrakhmat Dilihat 134 kali

 

Sumber: Canva.com 

Pernahkah kamu mengajukan penawaran, baik itu partnership dengan organisasi eksternal, sponsor untuk memenuhi kebutuhan acara, atau sekadar meminjam buku dari teman, lalu kamu mendapatkan jawaban, “Tidak bisa.”? Dalam dunia profesional maupun kehidupan sehari-hari, penolakan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses negosiasi. Namun, harus kamu ketahui, bahwa “tidak” bukanlah akhir dari percakapan. Karena justru di situlah negosiasi yang sebenarnya baru dimulai.

Negosiasi pada dasarnya adalah proses komunikasi dua arah untuk mencapai kesepakatan bersama. Bukan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, melainkan tentang mencari slusi yang dapat diterima kedua belah pihak. Dalam prosesnya, penolakan adalah kemungkinan yang selalu ada. Lalu bagaimana cara menhadapinya?

Ketika ditolak, respons pertama yang biasa kita jumpai atau rasakan adalah kecewa atau putus asa. Namun, seharusnya kita melihat momen ini sebagai peluang. Chris Voss, mantan negosiator FBI dalam bukunya Never Split the Difference, menekankan pentingnya empati dan mendengarkan secara aktif. Menurutnya, penolakan adalah petunjuk bahwa lawan bicara kita menginginkan informasi lebih lanjut atau mereka menggunakan penolakan itu sebagai mekanisme pertahanan. Tugas kita adalah membuka pintu dialog lebih dalam dengan menunjukkan bahwa kita memahami posisi mereka.

Ini beberapa prinsip dan tips yang bisa kamu terapkan ketika berhadapan dengan penolakan saat negosiasi:

1. Hindari Bereaksi Defensif, Tunjukkan Rasa Ingin Tahu, Saat mendengar kata “tidak”, lawan bicara kamu akan mengamati reaksi kamu. Alih-alih marah atau langsung menyerah, coba untuk tetap tenang. Gunakan pertanyaan terbuka yang bisa dimulai dengan “Apa” atau “Bagaimana”. Misalnya, kamu bertanya, “Boleh saya tahu, apa kekhawatiran utama anda sehingga tidak bisa menerima tawaran ini?” atau “Bagaimana menurut anda jika kita cari jalan tengahnya?” Pendekatan ini menunjukkan bahwa kamu mengahrgai sudut pandang mereka.

2. Gali Alasan di Balik Penolakan, Biasanya “tidak” jarang berdiri sendiri. Pasti ada alasan di baliknua, entah itu masalah anggaran, waktu, prioritas, atau hal lain yang belum kamu ketahui. Dengan menggali alasan ini, kamu bisa mendapatkan informasi berhagra untuk menyusun ulang tawaran kamu. Mungkin kamu bisa menyesuaikan tenggat waktu, anggaran, atau menawarkan opsi lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. Perlu diingat bahwa negosiasi itu tentang fleksibilitas.

3. Tawarkan Opsi, Perluas Diskusi, Menghadapi situasi take it or leave it memang sulit. Dalam situasi seperti ini, strategi terbaik adalah jangan langsung menerima atau menolak mentah-mentah. Coba untuk memperluas diskusi dengan menawarkan opsi lain. Contohnya, “Jika opsi A tidak bisa karena hambatan X, bagaimana jika kita coba opsi B sehingga masalah X lebih ringan, namun mungkin bisa kita kompensasi dengan…?” Ini mengubah situasi dari jalan buntu menjadi pencarian solusi bersama.

4. Akui Emosi, Fokus pada Kepentingan Bersama, Daniel Shapiro, dalam Negotiating the Nonnegotiable, menjelaskan bahwa konflik seringkali memiliki akar emosional. Jika negosiasi terasa buntu karena emosi, coba untuk mengakui perasaan tersebut tanpa menghakimi. Katakan. “Saya paham ini mungkin keputusan yang sulit.” Setelah itu arahkan kembali lawan bicara kamu untuk fokus pada tujuan bersama. Ingatkan mengapa kamu berbicara dengan mereka untuk bernegosiasi sejak awal.

Pada akhirnya, kemampuan bernegosiasi dengan penolakan adalah keterampilan yang bisa diasah. Ini tentang mengubah perspektif, dari melihat “tidak” sebagai batas akhir, menjadi sebuah petunjuk untuk jalan lain menuju tujuan bersama. Seperti yang dikatakan Roger Dawson dalam Secrets of Power Negotiating, negosiasi yang sukses sering diraih oleh mereka yang paling sabar dan paling terampil dalam menghadapi situasi sulit. Jadi, di masa depan ketika kamu mendengar kata “tidak”, ingatlah bahwa itu bukan akhir, melainkan undangan untuk memulai tahap selanjutnya dalam negosiasi.

Daftar Referensi:

Voss, Chris. (2016). Harper Business. Never Split the Difference: Negotiating As If Your Life Depended On It.

Dawson, Roger. (2011). Career Press. Secrets of Power Negotiating: 15th Anniversary Edition.

Shapiro, Daniel. (2016). Penguin Books. Negotiating the Nonnegotiable: How to Resolve Your Most Emotionally Charged Conflicts.

 

Penulis: Cut Syifa Khalda Nabila

Informasi Lainnya