Membangun Kesadaran Lingkungan dengan Literasi Keberlanjutan

30 November 2025 Oleh mzakyrakhmat Dilihat 161 kali

 

Sampah merupakan masalah lingkungan yang semakin mendesak, dan dampaknya semakin nyata, terutama di kota-kota besar seperti Bandung. Sebagai institusi pendidikan yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter mahasiswa, Telkom University (Tel-U) mengembangkan konsep Literasi Lingkungan yang bertujuan untuk membekali civitas akademika dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan. Melalui inisiatif ini, Tel-U berkomitmen untuk tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga contoh nyata dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Literasi lingkungan sendiri merupakan kemampuan untuk mengetahui, memahami, dan bertindak berdasarkan prinsip-prinsip keberlanjutan. Ini mencakup pemahaman yang mendalam tentang cara kita berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan dampak yang ditimbulkan dari aktivitas kita terhadap bumi. Literasi ini mendorong kita untuk tidak hanya berhenti pada pengetahuan tetapi juga bertindak untuk melestarikan sumber daya alam dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

Langka nyata Telkom University dalam Mewujudkan Green Campus
Telkom University memiliki komitmen besar untuk mengimplementasikan prinsip-prinsip keberlanjutan di dalam kampus. Pada tahun 2025, Tel-U berencana untuk tidak membuang sampah ke TPA manapun, semua sampah akan dikelola dengan sistem I-WANT berbasis ekonomi sirkular. Kampus ini menerapkan prinsip reduce, reuse, recycle (3R) dalam pengelolaan sampah, dengan melibatkan seluruh civitas akademika dalam menjaga kebersihan kampus. Sistem ini tidak hanya mendukung pengurangan sampah, tetapi juga memanfaatkan limbah organik untuk pembuatan kompos, pakan ternak, dan produk bernilai lainnya.

Inisiatif I-WANT dan Pemisahan Sampah
Salah satu kebijakan utama dalam pengelolaan sampah adalah implementasi Integrated Waste Management (I-WANT) yang bertujuan untuk mengelola sampah secara terintegrasi. Kampus menyediakan fasilitas pemilahan sampah yang terdiri dari tempat sampah 4 warna dan sistem pengangkutan yang efisien. Sampah yang dihasilkan dibagi menjadi dua kategori utama: organik dan anorganik. Sampah organik, seperti daun dan sisa makanan, diolah menjadi kompos, maggot, dan pakan ternak, sementara sampah anorganik dipilah dan didaur ulang untuk menghasilkan pot bunga atau bahan bangunan.

Dampak Pengelolaan Sampah terhadap Lingkungan dan Masyarakat
Pengelolaan sampah yang baik tidak hanya bermanfaat bagi kampus tetapi juga memberikan dampak positif pada lingkungan sekitar. Telkom University berpartisipasi aktif dalam program Satgas Citarum Harum, membersihkan sungai-sungai di sekitar kampus, dan mengajak masyarakat sekitar untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sampah. Melalui pelatihan dan penyuluhan, Tel-U mengedukasi warga tentang pentingnya pemisahan sampah dan dampaknya terhadap keberlanjutan lingkungan.

Literasi lingkungan adalah kunci untuk menciptakan budaya kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Di Telkom University, melalui penerapan kebijakan I-WANT dan pengelolaan sampah yang efisien, kita tidak hanya memberikan pendidikan kepada mahasiswa tetapi juga menunjukkan bahwa tindakan kecil, seperti memilah sampah, dapat membawa dampak besar bagi lingkungan. Melalui kolaborasi dan partisipasi aktif civitas akademika Telkom University, Telkom University berkomitmen untuk menjadi contoh dalam mewujudkan green campus yang berkelanjutan, yang pada akhirnya akan memberikan warisan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Referensi

Widarmanti, Tri. (2020). Spill the Tea: Liteasi Hijau, Kampus Memukau. Fakultas Ekonomi dan Bisnis – Prodi Manajemen, Telkom University.

Informasi Lainnya